Di dalam pandangan saya, ada empat tokoh raksasa Islam Indonesia yang hidup dalam generasi yang sama. Yang pertama adalah KH Ahmad Dahlan (1868-1923), pendiri Muhammadiyah. Yang kedua adalah KH Hasyim Asy’ari (1871-1947). Yang ketiga adalah HOS Tjokroaminoto (1882-1934). Yang keempat adalah H Agus Salim (1884-1954). Keempat tokoh ini mempunyai peran masing-masing didalam kelompok masyarakat
PEMIKIRIAN KH.HASYIM ASY’ARI TENTANG PENDIDIKAN AKHLAK DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER DI INDONESIA (Telaah Kitab Âdâb al-‘Âlim wa al-Muta’allim)
Ada cerita yang menarik tatkala KH.M Hasyim Asy’ari “masih belajar” dengan KH. M Khalil. Suatu hari, Kyai Hasyim melihat Kyai Khalil gurunya lagi bersedih, beliau memberanikan diri untuk bertanya. Kyai Khalil menjawab, bahwa cincin istrinya jatuh di WC, Kyai Hasyim lantas usul agar Kiai Khalil membeli cincin lagi.
Bayi dimaksud adalah Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari. Benar, putra ketiga dari 11 bersaudara pasangan Kiai Asyari dan Nyai Halimah tersebut dari garis ibu merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang). Mbah Hasyim (sapaannya) adalah keluarga kiai. Kakeknya, Kiai Utsman memimpin Pesantren Nggedang, sebelah utara Jombang.
Akhirnya, pemuda Asy’ari dinikahkan oleh Kiai Usman dengan puterinya, Halimah. Dari pernikahannya itu, pasangan Asy’ari dan Halimah dianugerahi 11 orang anak yaitu, Nafi’ah, Ahmad Saleh, Muhammad Hasyim, Radiah Hasan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi, dan Adnan. (Solichin Salam, 1963: 19) Putera Kiai Asy’ari yang ketiga, yaitu
j3eP.
foto kh hasyim asy ari png