Ayatini memberitahukan kepada kita dua hal: Pertama: kehidupan Asaf selama ini. Dia berkata bahwa dia adalah orang yang mempertahankan hati bersih dan membasu tangannya tanda tak bersalah. Hati adalah bagian yang tidak kelihatan --batiniah, dia pertahankan bersih. Kedua: Tangan adalah simbol dari tingkah-laku yang kelihatan, itupun dia basuh 1) Dodo melaksanakan salat karena Allah dan karena takut kepada orang tua (2) Rahman membantu orang tua karena yakin bahwa itu bakti yang diperintahkan Allah Swt. kepada setiap anak (3) Safawi rajin berpuasa Senin dan Kamis karena ingin mendapatkan nilai yang bagus dalam ujian Jadipuasa dilakukan bukan karena takut ketahuan orang lain, bukan pula karena agar tampil islami. Hal ini dipertegas dengan kalimat ketiga, "Puasa adalah perisai." Allah mengingatkan kita sekali lagi, bahwa puasa adalah tameng yang menjadi pelindung kita. Maka ketika kita berpuasa, kita tidak boleh membiarkan ada kotoran mengenai diri kita. Wanitaitu berkata, "Aku siap bersabar. Hanya saja jika sedang kambuh auratku terbuka. Oleh karena itu, berdoalah kepada Allah agar auratku tidak terbuka." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendoakannya." (HR. Bukhari dan Muslim). Ikhwani fillah rahimakumullah, Allah SWT memerintahkan kita untuk bersabar. Dalambeberapa hadis dikatakan bahwa orang yang berpuasa di bulan Ramadhan akan diampuni dosa yang telah lalu. Begitu juga bagi yang berpuasa di bulan Ramadhan diampuni dosa yang terdahulu. Rasa hormat anak kepada orang tua telah memudar. Jaring narkoba tertata begitu rapi, dari jaringan internasional hingga di lingkungan sekolah RmnNR. Alasan kita berpuasa alasannya takut pada orang renta2 kita berpuasa alasannya takut pada orang tua ​TIDAK SETUJUPUASA ADALAH KEWAJIBAN SETIAP MUSLIM, KITA BERPUASA KARENA ITU ADALAH PERINTAH TUHAN ALLAH. JIKA BERPUASA HANYA KARENA HADIAH ATAU DISURUH ORANG TUA. PUASA TIDAK BERKAH ATAU TIDAK BERPAHALA. SIA SIA KANApa hukumnya orang yg berpuasa alasannya adalah takut sama orang tuanya Kita berpuasa sebab takut pada orang bau tanah berikan argumentasikita puasa alasannya adalah takut pada orang renta ? alasan Alasan kita berpuasa alasannya takut pada orang renta Kita Berpuasa Karena Takut Pada Allah Agar Mendapatkan nrimo,bukan alasannya takut pada orang bau tanah 2 kita berpuasa alasannyatakut pada orang tua​ Jawaban TIDAK SETUJU Penjelasan PUASA ADALAH KEWAJIBAN SETIAP MUSLIM, KITA BERPUASA KARENA ITU ADALAH PERINTAH TUHAN ALLAH. JIKA BERPUASA HANYA KARENA HADIAH ATAU DISURUH ORANG TUA. PUASA TIDAK BERKAH ATAU TIDAK BERPAHALA. SIA SIA KAN Apa hukumnya orang yg berpuasa alasannya adalah takut sama orang tuanya Dia tak mendapatkan apa-apa kecuali lapar & haus. Kita berpuasa sebab takut pada orang bau tanah berikan argumentasi Jawaban sebab bila orang yg bertakwa, puasa itu hanya takut pada Allah.. …… kita puasa alasannya adalah takut pada orang renta ? alasan alasannya ialah jika kita tak puasa kita akan dimarahin orang bau tanah Pertanyaan Saya mempunyai anak berumur 9 tahun. Saya ingin petunjuk cara membiasakan anakku berpuasa di Bulan Ramadan, insyaallah. Karena dia tahun lalu berpuasa 15 hari saja di bulan Ramadan? Teks Jawaban Sangat menyenangkan kami melihat pertanyaan seperti ini, hal ini menunjukkan perhatian yang sangat besar kepada anak-anak dan pendidikan untuk taat kepada Allah Ta’ala. Hal ini termasuk nasehat orang yang menjadi tanggung jawab yang Allah berikan kepada kedua orang tua. Kedua, Anak berumur 9 tahun bukan termasuk mukallaf terkenan beban kewajiban menurut syara untuk berpuasa karena belum balig. Akan tetapi Allah Ta’ala membebani kedua orang tua untuk mendidik anak-anaknya dalam beribadah. Maka Allah Ta’ala memerintahkan mereka untuk mengajarkan shalat kepada mereka ketika berumur 7 tahun dan diperintahkan memukulnya ketika berumur 10 tahun. Sebagaimana para shahabat yang mulia radhiallahu anhum mengajarkan puasa kepada anak-anaknya sewaktu kecil untuk membiasakan dalam ketaatan yang agung ini. Semua itu menunjukkan perhatian yang besar terhadap keturunan agar tumbuh sebaik mungkin pada sifat dan prilakunya. Dalam masalah shalat, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ رواه أبو داود، رقم 495، وصححه الألباني في صحيح أبي داود "Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika meninggalkan shalat saat berumur sepuluh tahun. Dan pisahkan ranjang diantara mereka." HR. Abu Daud, 495 dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih Abu Daud Dalam puasa, dari Rabi binti Mu’awwid radhiallahu anha, dia berkata أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ الَّتِى حَوْلَ الْمَدِينَةِ مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ ، فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ، وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الإِفْطَارِ رواه البخاري، رقم 1960 ومسلم، رقم 1136 Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mengirim utusannya pada siang hari asyuro 10 Muharam ke desa-desa kaum Anshar di sekitar Madinah untuk mengumumkan, Barangsiapa telah berpuasa sejak pagi hari, hendaklah dia menyempurnakan puasanya. Barangsiapa yang pagi harinya berbuka, maka hendaknya puasa pada sisa harinya.’ Maka setelah itu kita berpuasa, dan kami membiasakan anak-anak kecil kami untuk berpuasa insyaallah. Kami pergi ke masjid, lalu kami buatkan untuk mereka anak-anak mainan dari kapas yang berwarna. Kalau salah satu diantara mereka menangis karena kelaparan. Kami berikan kepadanya mainan tersebut sampai berbuka puasa." HR. Bukhori, 1960 dan Muslim, 1136. Umar radhiallahu’anhu berkata kepada orang yang mabuk-mabukan di bulan Ramadan, "Celakalah anda!! padahal anak-anak kami berpuasa!? Kemudian dia memukulnya sebagai hukuman." HR. Bukhari –menggantung mu’allaq- bab Puasa Anak-anak. Silakan lihat perincian hal itu di soal jawab no. 65558. Di dalamnya terdapat pelajaran penting.. Ketiga, Terkait dengan metode pembiasaan anak-anak untuk berpuasa, coba perhatikan hal-hal berikut ini diantaranya, keutamaan puasa kepada mereka, bahwa hal itu termasuk sebab masuk ke dalam surga. Di surga ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan dimana hanya orang-orang puasa yang masuk ke dalamnya. sebelumnya untuk berpuasa seperti puasa beberapa hati di bulan Sya’ban agar tidak kaget dengan puasa di bulan Ramadan pada sebagian siang, dan menambahi waktunya sedikit demi sedikit sahur sampai di akhir malam, hal itu membantu puasa mereka di siang hari mereka berpuasa dengan memberi hadiah yang diberikan setiap hari atau setiap minggu mereka di depan keluarga sewaktu berbuka, ketika sahur. Hal itu dapat menaikkan semangat spiritualnya. semangat berlomba-lomba apabila dia mempunyai banyak anak tanpa harus mencela yang tertinggal. rasa lapar dengan tidur atau dengan mainan mubah yang tidak memerlukan tenaga. Sebagaimana para shahabat yang mulia melakukan terhadap anak-anaknya. Disana ada program anak-anak yang tepat. Film kartun di chanel islam yang terpercaya dapat menyibukkan mereka. agar sang ayah mengajak anaknya –khusus setelah Ashar- ke masjid untuk ikut shalat, menghadiri pengajian, tetap di masjid untuk membaca Al-Qur’an dan zikir kepada Allah Ta’ala. berkunjung di siang hari dan malam hari ke keluarga yang anak-anaknya berpuasa untuk memberi semangat kepada mereka terus melakukan puasa imbalan kepada mereka dengan tamasya yang mubah setelah berbuka puasa atau memasakkan makanan kesukaannya dan kue-kue, buah-buahan dan jus. Perlu diperhatikan kalau sekiranya anak-anak merasakan keletihan yang sangat, jangan dipaksa untuk menyempurnakan puasanya. Hal itu agar tidak menjadikan sebab dirinya benci beribadah atau menjadi sebab berbohong atau timbulnya penyakit. Karena pada dasarnya, dia belum termasuk mukallaf terkena beban kewajiban. Hendaknya masalah ini diperhatikan, jangan terlalu keras dalam memerintahkannya berpuasa. Wallahu a’lam . Puasa Ramadhan merupakan salah satu kewajiban bagi umat beragama Islam. Berpuasa di bulan Ramadhan berarti menahan diri dari makan, minum, dan perbuatan yang tidak baik atau nafsu. Seringkali pada saat berpuasa, emosi adalah salah satu hal yang cukup sulit ditangani selama menjalani puasa. Perasaan emosi ini bisa dialami oleh siapa saja, baik orang dewasa maupun anak-anak. Hal ini sudah wajar ditemukan pada anak-anak, terutama ketika mereka berpuasa. Seiring bertambah usia, gejolak emosi timbul semakin sering, karena berbagai permasalahan kian muncul. Ada banyak faktor penyebab mengapa emosi anak-anak sangat cepat mengalami perubahan. Contohnya karena faktor lingkungan atau karena faktor dalam diri anak itu sendiri. Sebagai orang tua, kita harus bisa mengajarkan anak-anak bagaimana menahan emosi ketika sedang berpuasa. 1. Ajarkan Ikhlas dan Saling Memaafkan Untuk Masalah yang Kecil Dari kecil, anak sudah mulai mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Mereka mengamati tingkah laku kedua orang tua dan mengimplementasikan ke kehidupan sehari-hari dalam proses meniru. Pada saat ini, adalah waktu yang tepat untuk mengajarkan mereka hal-hal yang baik, terutama saat berpuasa. Contohnya jangan mempermasalahkan masalah kecil menjadi hal yang lebih besar. Sebagai orang tua, kamu harus bisa menjelaskan kepada anak-anak bahwa tidak semua masalah harus dibesarkan. Ajari mereka menahan diri dan emosi saat berpuasa dengan tidak perlu mempermasalahkan hal kecil yang dialami. Jangan lupa juga untuk mengajarkan mereka memaafkan dan ikhlas, karena jika tidak diajarkan akan menjadi dendam pribadi. 2. Lakukan Hal yang Tepat Ketika Anak Sudah Terpancing Emosi Apabila anak sudah tersulut emosi, segera lakukan penanganan yang tepat untuk meredakan emosinya. Gunakan teknik mengatur napas yang lebih efektif untuk membantu menenangkan emosi. Secara perlahan, atur napas anak dengan menyuruhnya menarik napas dalam dan tahan selama sepuluh detik. Kemudian buang dengan perlahan, lakukan berulang kali. Jika emosinya cukup sulit ditangani, coba tambah durasi menahan napas selama beberapa detik. Lalu praktekkan selama berulang kali hingga emosinya meredam dengan sendirinya. Teknik ini terbukti cukup efektif untuk menenangkan emosi anak ketika sedang menjalani puasa. Baca Juga Jangan Sepelekan! Mom, Kenali Stunting dan Cara Mencegahnya 3. Jangan Melakukan Sesuatu yang Menyulut Emosi Anak Lagi Setelah anak tenang dan emosinya meredam, tips selanjutnya adalah jangan melakukan hal-hal yang membuat emosinya muncul lagi. Jangan membahas atau menanyai sesuatu yang sebelumnya membuat anak tersulut emosinya. Hindari perbuatan yang menyudutkan anak atas kesalahan mereka, apalagi berkomentar yang tidak menyenangkan hati. Biarkan anak tenang dan kembali ke aktivitas biasanya agar mereka melupakan masalah yang membuatnya emosi. Hal tersebut bisa berdampak baik bagi anak karena mereka akan terhindar dari berbagai pikiran negatif hingga trauma. Selain itu, jadilah tempat paling nyaman bagi anak mencurahkan isi hatinya, hal ini akan membuat anak lebih terbuka. 4. Alihkan Perhatian Agar Anak Lupa dengan Masalahnya Cara sebelumnya memang cukup efektif untuk meredam emosi pada anak, tapi hanya untuk sementara saja. Untuk itu, lakukanlah sesuatu yang bisa membuat anak melupakan masalah yang menyulut emosinya. Ajak mereka melakukan sesuatu yang membuat hatinya senang dan mau beraktivitas seperti semula. Beberapa kegiatan bisa kamu lakukan seperti mengajak mereka bermain bersama, menonton film kesukaannya, membacakan cerita favoritnya. Saat sedang berpuasa, cobalah ajak mereka menyiapkan menu buka puasa bersama. Dengan melakukan hal-hal kecil seperti di atas, perlahan anak akan memudarkan masalah di pikirannya dan fokus kembali ke aktivitas semula. Baca Juga Tanda Fobia Sosial pada Anak dan Cara Mengatasinya 5. Mengedukasi Anak Tentang Pentingnya Menahan Emosi Saat Bulan Ramadhan Tips yang paling pokok adalah memberikan mereka edukasi tentang pentingnya menahan emosi saat berpuasa di bulan Ramadhan. Ingatkan mereka bahwa emosi dapat muncul sebagai godaan hawa nafsu, puasa tidak menjadi berkah apabila tidak dapat menahannya. Cara ini memang sulit diajarkan, maka dari itu gunakan imbalan sebagai hadiah atas pencapaian mereka dalam menahan emosi. Edukasi anak tentang momen sakral selama bulan Ramadhan yang hanya terjadi satu kali dalam setahun. Yakinkan mereka bahwa menahan emosi adalah salah satu bentuk kewajiban selama berpuasa. Dengan begitu, perlahan mereka akan paham dan mencoba menahan emosinya secara mandiri. Peran Para Orang Tua sangat Penting Menjadi orang tua yang memiliki peran besar terhadap anak memang cukup sulit untuk dilakukan. Mengajari anak tentang menahan emosi, mau saling memaafkan, ikhlas, dan sabar sejak dini memang harus dilakukan. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan atas segala pencapaian mereka saat berhasil menahan emosi. Menjadi orang tua akan ditiru oleh anak atas apa saja yang kita ajarkan pada mereka. Baca Juga Seberapa Pentingkah EQ Emotional Quotient untuk Anak? Puasa Ibadah BulanRamadhan Anak Keluarga Apakah Anda mencari informasi lain? Imam Shamsi AliPresiden Nusantara FoundationSecara khusus Allah SWT memanggil orang-orang beriman untuk berpuasa “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa” Al-Baqarah 183. Dalam sebuah hadis juga disebutkan “Puasa adalah untuk-Ku, dan Aku yang akan membalas puasa orang yang berpuasa”. Panggilan iman dan pengakuan puasa sebagai milik Allah mengindikasikan secara kuat bahwa puasa adalah amalan ibadah yang bersifat personal atau private dengan Allah SWT. Dalam melakukannya tidak ada sama sekali orang ketiga yang terlibat. Ketika anda salat, gerakan-gerakan itu nampak kepada orang lain. Ketika anda berzakat, minimal yang memberi dan menerima ikut terlibat. Ketika haji bahkan jutaan yang menyaksikan. Tapi puasa benar-benar hanya antara pelaku dan Tuhannya yang menjadi sinilah kemudian puasa menjadi pintu lebar untuk hadirnya Allah dalam hidup pelakunya. Seorang yang berpuasa akan melatih diri untuk bersama dengan Dia, yang melihat apa yang tidak nampak maupun yang memang nampak. Dan karenanya lambat laun, tapi pasti, “mahabatullah” kebesaran Allah akan bersemayam dalam Allah telah hadir bersamanya di setiap saat, masa dan keadaan, maka saat itu dalam dirinya terjadi kekuatan yang belum pernah bahkan tidak pernah dibayangkan. Akan terbangun kekuatan dahsyat yang boleh jadi berada di luar dugaan. Kita misalnya mengenal bahwa dalam perjalanan sejarah Islam, banyak kemenangan-kemenangan umat ini justeru terjadi di bulan di perang Badar misalnya adalah kemenangan yang terjadi di luar dugaan dan kalkulasi manusia. Dengan jumlah prajurit dan persenjataan yang jauh lebih kecil, Rasulullah SAW mengalahkan musuh yang berkekuatan tiga kali lipat itu dikarenakan kekuatan umat ini tidak selalu bersandar kepada keluatan materi dan fisik. Tapi lebih penting, kekuatan umat itu terbangun di atas soliditas ruhiyahnya. Dan di sinilah peranan puasa dalam membangun kekuatan atau kebersamaan dengan Allah ma’iyatullah juga akan membangun ketenangan hidup. Percayalah, hidup ini penuh dengan hiruk pikuk, goncangan dan tantangan. Seseorang yang lemah dan kurang siap menghadapi perubahan dan goncangan itu pasti akan terombang-ombang di tengah samudra situasi berpihak kepadanya maka dia akan lupa diri. Bahkan membusungkan dada, angkuh dan merasa dunia telah menjadi miliknya. Sebaliknya, ketika keadaan tidak berpihak kepadanya, dia lemah, merasa hina, bahkan prustrasi dan karenanya hanya ada satu jalan dalam mengantisipasi goncangan hidup itu. Hadirkan Dia Yang memiliki langit dan bumi dan segala isinya. Hadirkan Dia dalam setiap detakan jantung dan aliran darah kehidupan. Ketegaran Rasulullah SAW menghadapi tantangan dakwah, bahkan ancaman hidup ketika itu karena hadirnya Allah dalam dadanya. Itulah yang beliau buktikan di saat berada dalam gua Hira itu. Para algojo itu telah berdiri di depan pintu gua dengan pedang terhunus. Abu Bakar RA yang melihat itu menangis, bukan karena takut akan kematinnya sendiri. Tapi khawatir akan keselamatan Rasulnya. Dia khawatir juga para algojo itu menengok ke dalam gua itu dan pasti akan membunuh Rasulullah sang Rasul sendiri tenang menghadapi itu. Beliau kemudian membisikkan ke telingah sabahatnya itu “Jangan takut, jangan khawatir, karena Allah bersama kita”. Ternyata kehadiran Allah dengan sungguh-sungguh dalam hati menjadi “pengusir” ancaman itu. Para algojo pulang dan meninggalkan tempat itu tanpa menyadari bahwa orang yang mereka cari itu telah ada di jiwa di saat bersama Allah ini juga terjadi kepada seorang muallaf Amerika. Jalan hidupnya yang keras, tidak mudah, bahkan penuh dengan duri yang dia Maria. Maria adalah seorang wanita Hispanic keturunan Colombia. Ketika masih berumur sekitar 24 tahun dia kenalan dengan seorang muslim keturunan Mesir di Kota New York. Mereka kemudian saling suka dan menikah, bahkan Maria menerima Islam dengan sungguh-sungguh sebagai jalan hanya dalam tempo yang singkat sang suami berubah kasar dan sering memukulinya. Hingga pernikahan mereka melewati masa dua tahun, dan dikaruniai dua anak, suaminya menceraikan dia. Maria dan kedua anaknya ditinggalkan tanpa apapun, bahkan Maria harus keluar dari rumahnya tanpa bekal dan tanpa hari-hari pertama Maria ditolong oleh sebuah gereja. Tinggal di sebuah penampungan shelter milik gereja itu sambil mencari pekerjaan. Hingga suatu hari Maria berhasil diterima bekerja di sebuah toko inilah dia berkenanalan dengan teman barunya, seorang perempuan, juga keturunan Hispanic asal Puerto Rica. Teman Maria ini rupanya memperhatikan Maria setiap hari. Diam-diam dia kagum karena Maria selalu datang ke pekerjaannya dengan pakaian rapih, lengkap dengan kerudung. Tapi yang terpenting, Maria selalu ceria setiap hari teman Maria ini memberanikan diri bertanya kepadanya “Don’t you have any problem in your life?”. Mendengar itu Maria sambil tersenyum bertanya "Why?” Temannya melanjutkan “I have seen you happy and smile all the time. Seemingly you’re so happy”. Maria kemudian memegang pundak temannya itu dan menceritakan semua permasalahan hidupnya. Dari kenalan dengan orang Mesir itu hingga nikah, sampai dipukuli dan diceraikan. Betapa terkejutnya teman Maria itu. Tapi dia pun semakin tidak paham, kenapa Maria tetap ceria dan tersenyum? “So what makes you happy all the time?,” tanyanya. Maria memandang temannya itu dengan serius, lalu menjawab dengan singkat “Karena Allah bersama saya”.Rupanya jawaban ini tanpa disangka menggetarkan jiwa teman Maria. Tanpa dia sadari, dia menangis, tersentuh dengan cerita Maria. Tapi yang paling menggetarkan jiwanya adalah jawaban Maria Karena Allah bersamaku”. Singkat cerita teman Maria itu menyatakan ingin mengikuti Maria. Diapun datang ke masjid diantar Maria dan menerima Islam sebagai jalan hidupnya yang kebesaran Allah ketika hadir dalam dada manusia, dia menjadi kuat dan tenang menghadapi gelombang pergerakan hidup yang hanya akan berakhir dengan berakhirnya hidup dunia itu sendiri. Dan puasa adalah kunci utama untuk hadirnya Allah dalam dada manusia. Semoga!rhs Efesus 61. -Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi Efesus 61-3PendahuluanPembahasan mengenai Efesus 61-3 ini menggambarkan bahwa, orang-orang pada zaman tersebut juga hidup didalam aturan yang dibuat pemerintahan Romawi, mereka pada zaman itu merasa hidup mereka tidak bebas, sehingga Rasul paulus menuliskan surat ini kepada jemaat di Efesus supaya mereka hidup sesuai dengan jalan Kristus, mereka hidup benar dihadapan Tuhan, walalupun banyak tekanan yang mewajibkan mereka melakukan demikian, tetapi Paulus tetap menasehati mereka terus-menerus supaya mereka tetap hidup sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, salah satunya tentang hubungan orangtua dengan Kata Taat dalam Efesus 61Kata taatilah orang tuamu didalam Tuhan Taatilah dalam beberapa bahasa ungkapan dapat diterjemahkan sebagai Turutilah Perintah, atau patuhilah kata-kata, atau seperti dalam bahasa Yunaninya, dengarkanlah. Dan ini merupakan istilah yang lebih kuat daripada tunduklah yang dikemukakan sebagai tugas seorang istri. Didalam Tuhan. “Lingkungan dimana hal ini harus terwujud, yaitu suatu ketaatan Kristiani yang digenapi dalam hubungan dengan Kristus”. Dalam beberapa bahasa , seluruh ungkapan ini dapat diungkapkan menjadi Taatilah orangtuamu karena kamu adalah milik Tuhan, atau Patuhilah perintah orangtuamu dalam peresekutuan yang akrab dengan Kristus. Kita juga dapat menarik kesimpulan lagi yaitu, sebagai pengikut Kristus, taatilah orangtua kalian, atau dalam BIMK, sebagai orang percaya dengarlah orangtua kalian.“Karna haruslah demikian” , ungkapan ini nampaknya digunakan untuk menegaskan perintah atau nasehat tadi, dapat disimpulan kata ini berarti, karena itulah yang memang harus kalian ini ditunjukan sebagai prinsip abadi AllahMatthew Hanry menuliskankan bahwa, taat itu merupakan tugas anak-anak kepada orangtua mereka. Merupakan rasa takut kepada Tuhan. Tugas besar anak-anak adalah untuk mematuhi orang tua mereka ayat 1, orang tua menjadi alat keberadaan mereka, Tuhan dan alam yang telah memberi mereka wewenang untuk memerintah, dengan tunduk kepada Allah; dan, jika anak-anak akan patuh kepada orang tua mereka yang saleh, mereka akan berada dalam cara yang adil untuk menjadi saleh sebagaimana adanya. Ketaatan yang dituntut Tuhan dari anak-anak mereka, atas nama mereka, mencakup penghormatan batin, serta ekspresi dan tindakan lahiriah. Kita tidak boleh tidak taat kepada Bapa surgawi kita dalam kepatuhan kepada orang tua duniawi; karena kewajiban kita kepada Allah adalah prioritas dan lebih tinggi dari semua orang menegaskan bahwa taat yang dalam teks Efesus 61-3 adalah taat yang di lakukan secara berkesinambungan artinya anak-anak yang masih kecil atau menginjak usia dewasa tetap wajib mentaati orangtua mereka selama orangtua hidup. Karena kedudukan orangtua patut diindahkan. Dan bagi Paulus perintah ini mengartikan ketaatan anak adalah kewajinan Kristiani, pada hukum dan Alkitab. Dengan perkataan lain, kewajiban itu wajar dan tertulis. Hati nurani dan dasar kewajaran itu diperkuat lagi dengan tradisi zaman baru dan Injil yang berkata, hai anak-anak taatilah orangtuamu “ di dalam Tuhan”, yaitu Tuhan Kata Hormat Dalam Efesus 62Dalam beberapa bahasa, Hormatilah Ayah dan ibumu bisa diungkapkan menjadi, kalian harus menganggap penting ayah dan ibu kalian masing-masing atau kalian harus menghargai dengan sungguh-sungguh ayah dan ibu hormat, honour ayat 2, berasal dari akar kata menghormati, atau mengakui kedudukan. Seperti yang di jelaskan Wiersbe Commentary bahwa kata hormat merupakan perintah bagi anak-anak untuk terus menghormati orang tua mereka, dan menunjukkan rasa hormat yang tinggi dan karenanya dianggap berharga, dihargai, dihargai atau dihormati. Untuk menunjukkan rasa hormat kepada seseorang adalah mengenali nilainya sebagai seseorang, Kata Hormatilah atau hormat di dalam Perjanjian Baru banyak digunakan misalnya di Matius 279b. Markus 279a. - hormat, Matius 154, 8; Markus 76; 1019; J 523; Efesus 62; 1 Timotius 53; 1 Petrus 217. Sangat menarik bahwa Paulus menegaskan hal ini langsung kepada anak-anak dalam keluarga juga hadir ketika ibadah berlangsung, dan mendengarkan Paulus saat ia menyampaikan perintah ini dan sifatnya berlangsung terus-menerus. Gaebelein menulis To honor ίμα is more than obey. It is to respect and esteem. Obedience on the part of children consist in listening to the advice given by parents hypakoute. Artinya menghormati sama kedudukannya dengan taat, tetapi hormat mengarah kepada soal tanggung jawab dan menghargai. Dan ketaatan merupakan bagian seorang anak mendengarkan masukan atau saran dari orang tua. Jadi menghormati orangtua merupakan suatu perintah dan kewajiban dari seorang anak terhadap orangtua secara terus menerus. Penghormatan sejajar dengan ketaatan, yaitu menghargai dan mengasihi mereka. Tindakan taat dilanjutkan dengan tindakan hormat kepada orangtua. Hal ini berlangsung terus menerus selama anak memiliki orangtua orangtua masih hidup dan tindakan ini juga bisa ditujukan kepada orang yang lebih tua seperti para pendidik mereka di gereja, di sekolah atau dalam masyarakat. Perintah utama untuk menghormati orang tua diberikan dengan disertai janji yaitu menjadi berhasil dan berumur panjang di Kata Janji dalam Efesus 6 3Kata janji dalam teks ini menurut Detzler Bible Knowledge Commnetary dijelaskan bahwa ini adalah perintah pertama dengan sebuah janji. Bagi Paulus, untuk konteks ini perintah itu harus menjadi perintah utama. Paulus mendasari hukum taurat bagian kedua khususnya hukum kelima menjadi perintah paling utama untuk anak-anak. Ini adalah "pertama" dalam arti "perintah utama," yaitu, yang paling penting bagi anak-anak dan itu juga memiliki janji. Di mana Paulus menggabungkan kewajiban anak untuk menaati orangtua dengan kewajiban terhadap Allah. Janji bagi mereka yang mematuhi orangtua mereka adalah bahwa mereka menikmati kehidupan yang sejahtera dan umur panjang di bumi. Ini menyatakan prinsip bahwa ketaatan memupuk disiplin diri, yang pada gilirannya membawa stabilitas dan umur panjang dalam kehidupan seseorang. Orang Israel yang terus-menerus tidak taat kepada orang tuanya tidak diistimewakan untuk menikmati kehidupan yang panjang dan stabil di tanah Israel. Contoh yang jelas dari hal ini adalah anak-anak Eli, Hofni dan Phinehas 1 Samuel 411]. Janji itu diberikan kepada Israel di Perjanjian Lama, asas itu masih berlaku hari ini. Dan ini menegaskan adanya hubungan janji dengan perintah yang diberikan kepada anak, bahwa janji itu sekaligus sebagai pujian bagi anak-anak yang taat dan hormat kepada para orangtua mereka. Anak akan diakui kedudukan sebagai anak-anak yang taat dan hormat kepada orangtua, dan mereka akan mendapatkan “kebahagian selama hidup di bumi dan di surga.” Anak-anak akan menerima berkat rohani dalam Kristus, anak-anak akan menikmati kemantapan sosial dalam bermasyarakat yang sehat dan kuat. Anak yang mendapatkan pujian memupuk rasa percaya diri. Janji dalam perintah untuk menghasilkan karakter taat dan hormat bagi anak akan menuai hasil berupa pujian dari Allah, dan pujian dari para orang tua anak. Bagi anak-anak yang biasa dipuji, akan tumbuh rasa percaya diri yang besar. Tafsiran Efesus 61-3Efesus 61 “anak-anak” tidak pasti usia berapa yang dirujuk disini. Dalam kehidupan orang Yahudi seorang laki-laki menjadi seorang pria, bertanggung jawab kepada hukum dan boleh menikah, pada usia 13 tahun yaitu, bar mitzvah seorang gadis menjadi pada usia 12 yaitu bath mitzvah. Dalam budaya Romawi anak laki-laki menjadi seorang pria pada usia 14, dalam kebudayaan Yunani, pada usia 18. ”taatilah” ini merupakan istilah majemuk Yunani dari “mendengar” dan “di bawah” . parallel kolosenya menambahkan “dalam segala hal”. Ketaatan ini pasti untuk jangka waktu tertentu masa kanak-kanak. Bahkan perintah ini harus diimbangi dengan Matius1034-39. Otoritas tertinggi bukanlah orangtua, tetapi Ilahi. “dalam Tuhan” pencakupan ini memastikan bahwa konteksnya adalah rumah tangga Kristen. Konteks ini menyiratkan biak anak-anak Kristen dan orangtua Kristen. “Haruslah demikian” Alkitab dengan jelas menyatakan hubungan pemberian Allah antara orang tua dan anak-anak. Keluarga yang kuat membentuk masyarakat yang kuat. Efesus 62 “hormatilah” ini adalah sebuah present present active imperative. Ini adalah kutipan dari sepuluh perintah Allah. “hormatilah” adalah istilah komersial yang berarti “memberikan bobot yang pantas kepada” ini mencerminkan konsep PL bahwa apa yang adalah “berat/berbobot”adalah berharga. Orangtua harus dihormati dan dihargai oleh anak-anak Kristen. Tidak ada orangtua yang sempurna sebagaimana juga tidak ada anak yang sempurna. “Ayahmu dan ibumu” ini menunjukkan bahwa kedua tua layak untuk dihormati dan dihargai. “ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini” kutipan dalam ayat Efesus 63 ini digunakan dalam ulangan dalam konteks yang berbeda. Ini bukan janji umur panjang untuk individu, tapi janji kebudayaan akan stabilitas sosial. Perhatikan bahwa Paulus, dengan mengutip sepuluh perintah Allah, menunjukkan bahwa hukum masih berlaku sejauh sebagai pedoman perwahyuan untuk orang Kristen tetapi tidak untuk keselamatan. Efesus 63 “di bumi Paulus mengadaptasi kutipan PL dari “di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu, kepadamu” dan mengubahnya menjadi sebuah prinsip umum. Para penulis PB sering mengambil janji PL untuk Israel dan diadaptasi menjadi kebenaran kepada OrangtuaHai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam tuhan, karena haruslah demikian Efesus 61. Dalam terjemahan Yunani kata taat hupakou yang berarti to listen. Kata ini menjelaskan taat berarti harus mendengar dengan sikap yang benar yakni menyimak dengan seksama dan kemudian dilakukan. Mendengar nasihat dari orangtua, bukan hanya sambil lalu, melainkan dihayati dan dilakukan. Menaati orangtua merupakan suatu kewajaran alamiah. Perintah bahwa anak-anak wajib menaati orangtuanya adalah pernyataan khusus dari Allah, menjadi “hukum wajar” yang ditulis Allah di hati nurani semua manusia. Hukum itu berlaku di setiap masyarakat, terlebih lagi di masyarakat Kristen. Seorang anak wajib menaati orangtuanya tak usah dipersoalkan, karena menaati orangtua adalah tuntunan akal sehat; kewajiban anak untuk menaati dan menghormati orangtua. Ketaatan ini memiliki standar yang tak ternilai oleh nalar manusia yang berdosa. Ketaatan kepada orangtua yang dimaksud merupakan manifestasi dari ketaatan kepada Tuhan. Maka, dikatakan bahwa taatilah orangtuamu di dalam Tuhan. Alasan ini juga merupakan suatu penerapan tema dari seluruh bagian, yaitu “rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan kristus” Efesus 521. Inilah keharmonisan dalam keluarga yakni anak-anak taat kepada orangtua dalam Orang-tuaMeskipun zaman berisikan kemajuan dan kebebasan yang luar biasa, tetapi anak-anak supaya tetap mentaati orangtuanya di dalam Tuhan. Dalam terjemahan Yunani, hormat berarti timao yang berarti honour, value. Kata ini menjelaskan mengenai bagaimana sikap menghargai dan menghormati yang tidak hanya dimulut tetapi Nampak juga dalam perbuatan. Rasa hormat yang dilakukan kepada orangtua adalah suatu perintahdan itu merupakan salah satu butir hukum taurat yang dikutif Rasul Paulus. Menghormati orangtua berarti menghargainya waktu masih hidup. Menghargai orangtua pada waktu sehat dan sakit, bukan pada waktu mereka sudah mati. Sikap hormat anak kepada orang tua, tidak ditentukan oleh sebuah persyaratan, apakah orangtuanya baik atau tidak, tetapi merupakan sebuah keharusan karena sudah diperintahkan Tuhan dalam hukum Taat dan Hormat Kepada OrangtuaAkibat dari taat dan hormat kepada orangtua ada janji tuhan tentang kebahagiaan dan umur panjang akan mengkuti sepanjang hidup. Jadi, kebahagiaan dan umur panjang adalah akibat dari taat, maka tidak dapat dijadikan sebagai tujuan. Maka yang terkandung dari kata kebahagiaan dan panjang umur adalah Berbahagia terjemahan Yunani dari kata berbahagia adalah eu, artinya prosper. Kata ini menjelaskan mengenai kehidupan yang selalu berhasil dan menjadi dan makmur. Panjang umur terjemahan Yunani dari kata panjang umur adalah makrochronios, artinya long lived. Kata ini menjelaskan mengenai durasi yang panjang seorang hidup dalam dunia ini. Itulah berkat dari Allah bila kita mengasihi orang tua dengan tulus. Berkat dari Allah ini dapat terealisasi jika taat dan hormat yang dilakukan dengan benar sebagai respon kepada firman Bagi Anak-Anak Kristen pada Masa KiniMenghormati orang tua adalah mengingat sumber kita. Akhirnya, bila kita menelusuri kembali sumber kita, kita akan sampai kepada Allah. Karena itu, menghormati orang tua hampir sebanding dengan menjunjung Allah. Bila kita menjunjung Allah, kita akan menghormati orang tua kita. Untuk itu melaui Efesus 61-3 ini kita sebagai sebagai seorang anak memiliki tanggungjawab yaitu seorang anak yang taat kepada orang tua kita seperti kepada Tuhan, tidak dengan manipulasi atau kepalsuan tetapi dengan motif yang murni untuk kemuliaan Tuhan. Melalui ini juga kita diminta untuk mewujudkan hubungan yang istimewa ini sebagai gaya hidup orang Kristen yang sejati, sebagimana yang dicantumkan dalam Alkitab yakni taat dan kasih . Melalaui nas inilah kita sebagai anak harus menghormati orang tua kita selama orang tua masih hidup baik dalam keadaan sakit atau sehat. Di zaman sekarang ini memang banyak anak-anak yang kurang menghargai orangtua dan tidak taat kepada orangtuanya dan melalui inilah kita diingatkan untuk menghormati orangtua kita di dalam Tuhan dan melalui tulisan Paulus, seorang anak yang taat dan menghormati orangtua akan mendapat janji dari Allah yaitu berbahagia dan panjang umur di Menghormati orang tua kita adalah mengingat sumber kita. Akhirnya, bila kita menelusuri kembali sumber kita, kita akan sampai kepada Allah. Karena itu, menghormati orang tua hampir sebanding dengan menjunjung Allah. Bila kita menjunjung Allah, kita akan menghormati orang tua kita. 2. Selama seorang anak memang masih usia anak-anak, selama itu pula ia wajib taat kepada orang tuanya. Paulus mengingatkan bahwa ketaatan terhadap orang tua tidak hanya bagian dari komitmen kristiani melainkan juga suatu hal umum yang benar untuk dilakukan. Ketaatan yang demikian menurut Paulus adalah suatu keharusan atau barangkali lebih baik, sesuatu yang benar dan adil bagi Allah.

kita berpuasa karena takut kepada orang tua